KENIKMATAN DZIKIR
Banyak orang berkata tentang dzikir adalah tugas, yang di lakukan karena perintah. Atau sebagai sarana penambah pahala semata. Lebih parah lagi berdzikir karena menginginkan sesuatu, bukan karena allah swt. Padahal dzikir adalah kebutuhan kita, sama seperti sa'at kita melaksanakan ibadah sholat 5 waktu. Imam ibnu taimiyah berkata, "dzikir bagi hati, ibarat air bagi ikan". Bagaimana menurut kalian, keada'an ikan bila tanpa air..??
Dzikir adalah makanan ruhani, bila ruhani tidak berdzikir maka seperti jasmani yang kelaparan dan kehausan. Ruhani yang tidak ada dzikir di dalamnya akan kehilangan kekuatanya, tidak bisa tegak,kuat, kokoh. Merasa dalam kerisauan, kekalutan, dan kesedihan. Padahal setiap orang menginginkan kebahagia'an, ketenangan, dan ketentraman. Kita berusaha keras mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, mengejar duniawi, itu semua karena ingin meraih kebahagia'an. Semua itu memang akan memberikan kesenangan. Tetapi semua kesenangan kenikmatan - kenikmatan materi itu hanya memberikan kesenangan nafsu kita.
Kebahagia'an yang hakiki adalah ketika seorang hamba merasa dekat dengan tuhanya. Kapan hamba itu dekat..?? Sa'at hamba itu berdzikir. Allah swt berfirman, "berdzikirlah kepadaku niscaya aku akan mengingat kalian"(qs.al-baqarah 152).
Dzikir adalah seperti buah buahan yang di sukai hati. Karena seperti makanan, maka akan timbul citarasa. Ada kenikmatan kelezatan batiniah dalam dzikir. Allah swt berfirman, "ingatlah, hanya berdzikir kepada allah hati menjadi tenang".(qs.ar-ra'du : 28).
Ketenangan hadir karena keyakinan, sedangkan kegelisahan hadir disebabkan keraguan, dengan berdzikir hati akan menjadi tenang, karena akan meresap ke dalam hati keyakinan kepada allah swt. Sebenarnya tidak satu urusan pun di dunia ini. Tidak harta, tidak kedudukan, tidak pula keturunan, yang dapat menenangkan hati. Ya hanya dengan "alaa bidzikrallah". Hati menjadi tenang. Mari kita jawab. Dengan hal apakah yang bisa memberikan rasa aman ketika dilanda ketakutan, yang memberikan ketenangan ketika di hinggapi amarah, yang memberi ketenangan sa'at curiga terhadap seseorang, yang memberikan keteguhan hati sa'at goyah oleh perhatian dan pujian manusia. Yang menghadirkan sebuah harapan ketika di lupakan oleh manusia. Yang menghadirkan ridha ketika kita tidak disukai oleh manusia..?? Yap jawabanya adalah hanya dengan dzikir kepada allah swt. TIDAK YANG LAIN.
Dzikir akan menghubungkan seseorang hamba kepada rabbnya. Seorang hamba akan merasakan kedekatan dan merasa di perhatikan oleh allah swt. Kebingunganya akan di gantikan oleh hikmah dari setiap kejadian. Seseorang dapat merasakan bahwa tidaklah semua yang terjadi di dunia ini, baik berupa nikmat maupun musibah, melainkan semua atas ijin allah swt. Karena itu seorang hamba mampu dan ridha terhadap setiap keputusan allah swt. Itulah ketenangan hakiki yang di berikan oleh dzikrullah. Orang-orang yang hatinya memiliki keimanan dan hatinya tersambung dengan almah swt, pasti merasakanya.
Lalu bagaimana terhadap orang-orang yang merasa bosan terhadap dzikirnya. Yang setiap kali akan memulai dzikirnya atau membaca al-quran, rasanya ingin segera mengakhiri dan beranjak kepada urusan lain. Mengapa mereka tidak merasakan ketenangan dan kenikmatan ruhani..??
Ketahuilah ruhani memiliki dua unsur. Yaitu akal yang mengajak pada kebenaran hakiki, Juga unsur hawa nafsu, yang mengajak pada pemuasan syahwati (jasad). Masing-masing menuntut keinginan yang saling bertolak belakang, saling melemahkan. apa bila seseorang telah didominasi oleh syahwatnya, yang disebabkan terlalu lama ia menuruti keinginan-keinginan syahwatnya, sehingga ia semakin kuat dan menguasai jiwanya. maka sudah automatis akal ruhaninya melemah. ruhaninya sakit. dan apa bila sudah sakit, akan susah di sembuhkan. karena penyakit hati hanya dapat di sembuhkan dengan membaca istigfar, dan dzikrullah. serta memperbaiki hal hal buruk menjadi baik. menghilangkan iri, dengki, terhadap diri kita. selalu mengingat allah swt dengan cara berdzikir dapat mencegah, dan mengobati penyakit hati tersebut.
Anda pasti kesulitan menggambarkan betapa enaknya sebuah makanan terhadap orang yang sedang sakit. baginya semua makanan tidak nyaman dan hambar bahkan membuat mual. seperti itulah, tidak ada kalimat yang begitu sempurna, yang dapat menggambarkan kenikmatan dzikir, bagi mereka yang tidak pernah mengenalinya. kenikmatan dzikir tidak bisa di ceritakan dengan kata-kata, hanya bisa di rasakan oleh hati yang telah di penuhi olehnya, selalu menyambut seruanya, dan merasa nyaman denganya.
Akan tetapi bukan berarti karena tidak enak makan, orang sakit boleh tidak makan. dia tetap harus dipaksa makan, agar asupan gizinya tetap terjaga, dan agar dekat dengan potensi kesembuhan. begitupula ruhani, kalau hati tidak merasakan kenikmatan dzikir, barangkali karena mereka sedang sakit. maka dzikir adalah obat dari kesembuhanya. maka apabila kita belum merasakan kenikmatan dzikir, tetaplah berdzikir dengan lisan kita. sebagian besar manusia memang mengawali dzikirnya dengan lisan. padahal hatinya masih berada dalam kelalaian. mereka tidak terlalu memperhatikan keadaan hatinya, merasa cukup dengan keada'an dirinya, mereka masih tetap terus berdzikir dengan lisanya, meskipun hatinya berpaling dari dzikir yang mereka baca. tetapi jika mereka tetap terus berdzikir dengan lisanya, meskipun hatinya berpaling dari dzikir yang mereka baca. tidak pernah bosan, pada akhirnya cepat atau lambat dzikir itupun akan tetap masuk kedalam hatinya. maka sa'at itu lisan dan hatinya menyatu dalam dzikir.
Sebagian yang lain tidak melakukan dengan cara seperti itu. mereka tidak berdzikir dengan lisan, sa'at hatinya dalam kelalain. mereka menenangkan diri terlebih dahulu, hingga hatinya hadir. setelah hatinya hadir, barulah mereka berdzikir dengan hatinya. lalu ketika sudah kuat dzikir itu di dalam hati, barulah lisanya mengikuti. maka kemudian barulah hati dan lisanya berdzikir bersama.
Yang pertama, mengungkapkan dzikir dari lisan menuju hati. yang kedua, mengungkapkan dzikir dari hati menuju lisan. keduanya akan sama-sama menjadi sebaik-baik dzikir yang paling bermanfa'at, apabila keduanya menyampaikan pada menyatunya hati dan lisan dalam ingat kepada allah swt. itulah dzikirnya para nabi dan rasul. dzikir yang bermanfa'at dan mencapai tujuanya.
"wallahu a'lam bisshowab"




